ASBI News, Semarang, Jawa Tengah — Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Kota Semarang berlangsung meriah dengan rangkaian kegiatan budaya dan tradisi yang kuat, memadukan keberagaman masyarakat dan semangat toleransi di tengah suasana Bhinneka Tunggal Ika.
Menjelang puncak perayaan, umat Tri Dharma menggelar ritual Sembahyang Sang Sin atau Toa Pek Kong Naik di Kelenteng Tay Kak Sie, kawasan Pecinan Semarang. Ritual sakral ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa bakti dan refleksi spiritual, sekaligus simbol permohonan keselamatan dan berkah di tahun baru.
Tradisi panjang semacam ini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya warga Tionghoa di Semarang yang setiap tahun menjaga kelestariannya melalui doa bersama dan upacara leluhur.
Pasar Imlek Semawis 2026 Pusat Keramaian dan Toleransi
Selain ritual keagamaan, Pasar Imlek Semawis (PIS) kembali menjadi pusat keramaian yang memikat ribuan pengunjung. Pasar malam khas Pecinan ini menampilkan nuansa warna-warni lampion, aneka kuliner, serta lapak budaya yang mencerminkan akulturasi lokal.
Di lini kegiatan ini, berbagai komunitas dan lembaga turut meramaikan suasana. Suara Merdeka Network membuka stan interaktif bagi pengunjung, menyediakan layanan karikatur dan grafologi gratis yang menjadi magnet tersendiri bagi keluarga dan generasi muda.
Pasar Imlek Semawis bukan hanya sekadar pasar malam, tetapi juga ruang pertemuan sosial yang memperkuat tali persaudaraan lintas etnis dan agama di Kota Semarang.
Imlek Semarang sebagai Bagian dari Harmoni Nusantara
Kota Semarang terpilih menjadi salah satu dari delapan daerah yang turut menyelenggarakan kegiatan dalam kerangka Harmoni Imlek Nusantara 2026, sebuah agenda nasional yang mendukung semangat inklusivitas dan kebinekaan dalam perayaan Tahun Baru Imlek di seluruh Indonesia.
Dalam rangkaian tersebut, pemerintah pusat mendorong agar perayaan Imlek tidak hanya menjadi ritual internal komunitas Tionghoa tetapi juga memperkaya khazanah budaya nasional yang inklusif.
Pesan Kebersamaan dan Toleransi
Dalam momentum puncak perayaan Imlek, para tokoh masyarakat dan pemerintah setempat menyerukan pesan penting tentang pentingnya menjaga tradisi sekaligus merawat nilai-nilai toleransi. Kehadiran tokoh lintas agama dan komunitas turut menegaskan bahwa perayaan ini adalah bagian dari kehidupan bersama yang saling menghormati.
Warga dari berbagai latar belakang menyemut di lokasi-lokasi perayaan, saling berbagi angpao, serta menikmati hiburan dan kuliner khas Imlek—menjadi bukti hidupnya semangat kebersamaan dan persatuan di Kota Semarang.
Kebersamaan dalam Ragam Perayaan
Perayaan Imlek di Semarang tahun ini tidak hanya terlihat dari sembahyang leluhur dan bazar pasar malam, tetapi juga dalam kegiatan kreatif, pertunjukan budaya, dan kebersamaan antargenerasi. Gelaran ini berhasil menampilkan imaji budaya tradisional yang hidup berdampingan harmonis dengan semangat modern, yang disambut antusias masyarakat luas.
Dengan demikian, perayaan Imlek Semarang 2577 Kongzili bukan sekadar pergantian tahun baru menurut kalender Tionghoa, tetapi juga sebuah perayaan kebudayaan yang memperkuat nilai-nilai harmoni, toleransi, dan inklusivitas di tengah masyarakat yang majemuk.
![]()
