ASBI News, Denpasar – Komando Daerah Militer IX/Udayana angkat suara merespons video yang viral di media sosial dan mengklaim adanya penolakan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSAD Tk IV/Bima, Nusa Tenggara Barat. Pihaknya menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak sesuai fakta dan tidak benar terjadi.
Menurut keterangan resmi dari Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana, Kolonel Infanteri Widi Rahman, peristiwa bermula pada Jumat malam, 13 Februari 2026, ketika seorang anak berusia 2 tahun bernama Abidzar Al Fattah datang ke IGD dengan keluhan demam, mual, dan muntah. Pasien itu diantar oleh keluarga beserta seorang yang mengaku dari sebuah LSM menggunakan ambulans desa.
Sesampainya di IGD, tenaga medis langsung memberi pemeriksaan awal sesuai prosedur medis, sehingga tidak benar pasien ditolak, seperti yang disampaikan dalam narasi video yang viral.
Saat pelayanan berlangsung, suasana sempat memanas karena kejadian tidak kondusif yang dibuat oleh pihak yang mengaku dari LSM tersebut. Pihak LSM disebut membentak petugas, membuat keributan di ruang IGD, serta merekam video saat tenaga medis sedang menangani pasien lain. Karena itu, dokter jaga mengarahkan pihak keluarga ke bagian pendaftaran untuk melanjutkan administrasi pelayanan.
Hasil pengecekan administrasi menunjukkan bahwa pasien tersebut belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Petugas kemudian menjelaskan bahwa pasien bisa tetap mendapatkan layanan medis sebagai pasien umum, sekaligus memberi informasi mengenai proses pengurusan BPJS. Namun, pihak LSM kembali menunjukkan sikap tidak kooperatif dan emosional, bahkan memukul meja dan mengancam akan “memviralkan” rumah sakit.
Kapendam IX/Udayana menegaskan bahwa RSAD Bima tidak pernah menolak pasien. Bukti adanya penanganan awal medis bagi anak tersebut menunjukkan bahwa pelayanan tetap dilakukan sesuai ketentuan. Tenaga medis juga memberikan edukasi kepada keluarga tentang prosedur administrasi dan alternatif solusi administrasi jaminan kesehatan.
Lebih jauh, rekaman CCTV di rumah sakit disebut menunjukkan bahwa pihak yang mengaku dari LSM memang memiliki perilaku tidak kondusif terhadap tenaga kesehatan dan bahkan disebut beberapa kali menimbulkan keributan di lingkungan RSAD Bima.
Kolonel Widi Rahman mengimbau masyarakat agar tidak gampang terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi di media sosial. Ia juga meminta semua pihak menghormati tenaga kesehatan yang bekerja untuk kepentingan kemanusiaan serta menjaga komunikasi yang baik demi kelancaran pelayanan pasien.
“Rumah sakit TNI, termasuk RSAD Bima, selalu berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Kapendam.
![]()
