ASBI News, Aceh Tengah — Fenomena lubang besar yang menyerupai sinkhole atau tanah amblas di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, menjadi perhatian serius warga dan pemerintah setempat. Lubang yang muncul di kawasan perbukitan ini terus melebar secara signifikan, bahkan mengancam pemukiman warga, lahan pertanian, serta infrastruktur vital seperti jalan utama dan saluran listrik.
Fenomena tanah amblas ini awalnya dideteksi sebagai retakan kecil yang kemudian berkembang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sebuah lubang besar yang sampai kini terus meluas dengan cepat. Berdasarkan pengamatan terakhir, lubang tersebut telah meluas lebih dari 30.000 meter persegi (±3 hektare) dan terus menggerus lahan pertanian warga setiap hari dengan laju perluasan mencapai beberapa meter per hari.
Dampak lubang besar ini sangat luas. Selain memutus badan jalan lintas yang merupakan akses utama wilayah tersebut, tanah amblas juga menelan lahan produktif seperti persawahan, kebun jagung, dan tanaman bawang milik masyarakat setempat. Banyak petani mengalami gagal panen total akibat amblesan tanah yang terus bergerak tanpa henti.
Jalan penghubung utama antara Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah sempat terputus karena longsor yang diakibatkan oleh lubang raksasa ini. Meski sebelumnya pemerintah telah membangun jalur alternatif, amblesan terbaru kembali memutus akses tersebut, mempersulit mobilitas warga dan distribusi kebutuhan pokok.
Situasi di sekitar lubang menjadi sangat tegang ketika sejumlah warga nekat mendekati bibir lubang untuk melihat dari jarak dekat. Dalam sebuah video yang beredar, terdengar suara gemuruh dari dalam tanah yang membuat warga panik dan berlarian menjauh, menunjukkan betapa mengerikannya kondisi di lokasi itu. Pihak aparat akhirnya memasang garis polisi sebagai batas aman demi mencegah jatuhnya korban akibat ambruknya tanah secara tiba-tiba.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengamati fenomena ini dan menyampaikan bahwa lubang besar tersebut mirip dengan fenomena sinkhole—lubang yang terbentuk akibat tanah turun atau amblas—meskipun mekanismenya berbeda dari sinkhole karst klasik. Mereka menjelaskan bahwa struktur geologi di kawasan ini didominasi material vulkanik yang rentan terhadap gerakan tanah ketika jenuh air, serta kemiringan lereng yang curam ikut mempercepat amblesan.
Seorang geolog dari Syiah Kuala University menyarankan agar aliran air di sekitar lokasi dialihkan agar tidak mempercepat pergerakan tanah, terutama selama musim hujan. Hal ini bertujuan mengurangi tekanan air di bawah permukaan yang dapat memperparah amblesan dan memperlebar bibir lubang.
Upaya penanganan bersifat darurat dan jangka panjang. Selain pemasangan garis polisi untuk melindungi warga dari potensi jatuh, pemerintah dan lembaga terkait terus memantau perkembangan tanah amblas dan risiko susulan. Selain itu, pihak berwenang telah memperingatkan masyarakat untuk tidak beraktivitas di sekitar area zona merah, demi keselamatan jiwa.
Perubahan topografi yang cepat ini juga mendorong berbagai instansi mengkaji langkah mitigasi lebih lanjut, termasuk peringatan dini dan pemetaan wilayah rawan, serta kemungkinan relokasi infrastruktur vital yang berada dekat dengan area lubang besar.
Fenomena lubang besar di Aceh Tengah ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap gerakan tanah, terutama di wilayah dengan kondisi geologi rentan dan curah hujan tinggi. Meski belum sepenuhnya diketahui kapan proses ini akan berhenti, langkah kolaboratif antara pemerintah, ahli geologi, dan masyarakat diharapkan mampu meminimalkan risiko kerugian yang lebih besar lagi.
![]()
