ASBI News, Tidore, Maluku Utara – Kehadiran bangsa Spanyol di wilayah Nusantara merupakan bagian dari persaingan global memperebutkan perdagangan rempah-rempah pada abad ke-16. Setelah ekspedisi keliling dunia yang dipimpin Ferdinand Magellan mencapai Kepulauan Maluku pada tahun 1521, Spanyol mulai menanamkan pengaruhnya di kawasan timur Indonesia, khususnya di Kesultanan Tidore.
Sejarah mencatat bahwa armada Spanyol tiba di Tidore pada tahun 1521 dan menjalin hubungan diplomatik dengan Sultan Tidore. Kerja sama tersebut dilakukan sebagai upaya menghadapi dominasi Portugis yang saat itu telah lebih dahulu menguasai Malaka dan memiliki pengaruh kuat di wilayah Maluku. Persaingan antara Portugis dan Spanyol kemudian menjadikan Maluku sebagai salah satu pusat konflik geopolitik internasional pada masanya.
Menurut catatan sejarah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia serta berbagai kajian akademik mengenai kolonialisme di Asia Tenggara, Spanyol tidak pernah menguasai seluruh wilayah Nusantara seperti yang dilakukan Belanda. Pengaruh Spanyol lebih terpusat di wilayah Maluku Utara dan sebagian kawasan Sulawesi Utara yang memiliki keterkaitan perdagangan dengan Filipina, yang saat itu menjadi koloni utama Kerajaan Spanyol di Asia.
Pada tahun 1529, melalui *Perjanjian Zaragoza*, Spanyol dan Portugis menyepakati pembagian wilayah pengaruh di kawasan Asia. Perjanjian tersebut bertujuan mengakhiri sengketa kepemilikan Kepulauan Maluku yang terkenal sebagai penghasil cengkih dan pala. Meski demikian, kehadiran Spanyol di Tidore tetap berlangsung selama beberapa generasi melalui hubungan politik dan perdagangan dengan kesultanan setempat.

Sepanjang abad ke-16 hingga abad ke-17, Spanyol beberapa kali terlibat konflik dengan Portugis maupun Belanda. Ketika Belanda melalui VOC mulai memperluas kekuasaan dagangnya di Maluku, posisi Spanyol semakin terdesak. VOC secara bertahap mengambil alih jalur perdagangan rempah-rempah dan memperkuat pengaruhnya di wilayah yang sebelumnya menjadi arena persaingan antara Portugis dan Spanyol.
Puncaknya terjadi pada tahun 1663 ketika Spanyol menarik sebagian besar kekuatan militernya dari Maluku untuk memusatkan perhatian pada pertahanan Filipina. Meskipun hubungan dengan Kesultanan Tidore masih berlangsung, pengaruh politik dan militer Spanyol di Nusantara terus menurun hingga akhirnya berakhir sepenuhnya setelah penyelesaian berbagai perjanjian dengan Belanda pada akhir abad ke-17.
Sejarawan menilai bahwa warisan Spanyol di Indonesia tidak sebesar pengaruh Belanda. Namun, kehadiran mereka tetap menjadi bagian penting dalam sejarah Nusantara karena menandai awal persaingan bangsa-bangsa Eropa dalam memperebutkan perdagangan rempah-rempah yang saat itu menjadi komoditas paling bernilai di dunia.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa pengaruh Spanyol di Nusantara berlangsung sekitar 1521–1692, meskipun sifat kekuasaannya tidak merata dan hanya berfokus pada beberapa wilayah tertentu. Oleh karena itu, para ahli sejarah lebih tepat menyebut Spanyol sebagai kekuatan kolonial regional di Maluku dibandingkan penguasa seluruh wilayah Indonesia.
![]()
