ASBI News | Kabupaten Bandung – Di tengah derasnya arus modernisasi yang terus bergerak tanpa henti, masih ada ruang-ruang kehidupan yang tetap menjaga denyut tradisi sebagai bagian dari jati diri bangsa. Salah satunya hadir melalui Panceg Rupa: Pengabdian kepada Masyarakat Melalui Hajat Lembur, sebuah perhelatan budaya yang menjadi simbol kuat bagaimana masyarakat Sunda merawat warisan leluhur dengan penuh penghormatan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Bertempat di Lembur Awi, Kampung Wangun, Desa Jatisari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, Minggu (2/8), kegiatan yang diprakarsai oleh Padepokan Panawung Jaya Guyur Putra bersama Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Fakultas Pendidikan tersebut menghadirkan harmoni antara nilai budaya, pendidikan, spiritualitas, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sejak matahari mulai menghangatkan bumi Pasundan, masyarakat dari berbagai kalangan telah memadati lokasi kegiatan. Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan sebuah tradisi, melainkan turut menjadi bagian dari perjalanan budaya yang diwariskan lintas generasi. Di setiap langkah, di setiap sapaan, hingga dalam setiap doa yang dipanjatkan, terpancar semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Sunda.
Bagi masyarakat Desa Jatisari, Hajat Lembur bukan sekadar seremoni adat. Tradisi ini merupakan ungkapan syukur kepada Allah SWT atas nikmat kehidupan, keselamatan, kesehatan, rezeki, serta keharmonisan yang senantiasa mengiringi perjalanan hidup masyarakat. Di dalamnya terkandung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam sebagai satu kesatuan kehidupan.
Budaya Adalah Cahaya Peradaban
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kapolsek Cangkuang Didi Dwipurnomo, S.AP., C.PHR, Kasi Pemerintahan Desa Jatisari Rahmat Hidayat, perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Bandung Hj. Dini Hayati, Pimpinan Padepokan Panawung Jaya Guyur Putra Ade Cucu, perwakilan Mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Rizki Ahmad Syafei, serta tamu undangan dari DPD Partai Berkarya Kabupaten Bandung yang diwakili Deden Wahyu, mewakili Bendahara DPD Partai Berkarya Kabupaten Bandung, H. Agus Darmawan.
Dalam sambutannya, Ade Cucu menyampaikan bahwa Panceg Rupa lahir dari keyakinan bahwa budaya merupakan ruh kehidupan masyarakat yang tidak boleh tercerabut oleh perkembangan zaman.
Menurutnya, pelestarian budaya bukan hanya menjaga kesenian tradisional, tetapi juga menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang hidup di dalamnya.
“Budaya adalah bahasa yang menyatukan generasi. Ia mengajarkan kesederhanaan, gotong royong, rasa hormat kepada leluhur, dan kecintaan kepada tanah kelahiran. Ketika budaya tetap hidup, maka jati diri bangsa pun akan tetap berdiri tegak. Panceg Rupa menjadi ikhtiar kami untuk memastikan warisan itu tetap tumbuh bersama masyarakat,” tutur Ade Cucu.
Pengabdian yang Berangkat dari Dunia Pendidikan
Kolaborasi dengan Mahasiswa UPI menjadi warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mahasiswa menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi ruang para budayawan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab akademik dan moral generasi muda.
Perwakilan Mahasiswa UPI, Rizki Ahmad Syafei, menuturkan bahwa keterlibatan mahasiswa merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam membangun kedekatan antara ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat.
“Belajar budaya tidak cukup di ruang kelas. Nilai-nilai kehidupan justru lahir ketika mahasiswa hadir di tengah masyarakat, mendengar, memahami, dan ikut menjaga warisan budaya yang menjadi identitas bangsa,” ujarnya.
Tradisi yang Menguatkan Harmoni Sosial
Kapolsek Cangkuang, Didi Dwipurnomo, S.AP., C.PHR, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang berlangsung aman, tertib, dan penuh kekeluargaan.
Ia menilai bahwa kegiatan budaya memiliki kekuatan besar dalam membangun komunikasi sosial yang harmonis serta mempererat hubungan antara masyarakat, pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, dan aparat keamanan.
“Ketika masyarakat berkumpul dalam semangat budaya, sesungguhnya mereka sedang memperkuat persatuan. Nilai kebersamaan yang tumbuh dari tradisi menjadi modal penting dalam menjaga keamanan dan keharmonisan kehidupan bermasyarakat,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Rahmat Hidayat, Kasi Pemerintahan Desa Jatisari, menegaskan bahwa Hajat Lembur merupakan warisan budaya yang sarat nilai gotong royong, silaturahmi, penghormatan kepada leluhur, serta rasa syukur kepada Allah SWT.
Sementara Hj. Dini Hayati dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bandung menilai kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi contoh ideal bagaimana pelestarian budaya dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui sinergi antara pemerintah, komunitas budaya, akademisi, dan masyarakat.
Dukungan Partai Berkarya untuk Pelestarian Budaya
Momentum tersebut juga mendapat apresiasi dari DPD Partai Berkarya Kabupaten Bandung. Hadir mewakili Bendahara DPD Partai Berkarya Kabupaten Bandung, H. Agus Darmawan, Deden Wahyu menyampaikan bahwa budaya merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai dan harus menjadi bagian dari pembangunan karakter masyarakat.
Dalam pernyataannya, ia menyampaikan pesan dari H. Agus Darmawan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus dibarengi dengan penguatan nilai budaya sebagai fondasi kehidupan masyarakat.
“Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah menghadirkan ruang kebudayaan seperti Panceg Rupa. Tradisi adalah identitas yang menyatukan masyarakat. Ketika budaya dijaga, maka karakter bangsa ikut terpelihara. Semoga kegiatan ini terus menjadi inspirasi dan berkembang menjadi gerakan bersama dalam melestarikan warisan budaya Nusantara,” ujar Deden Wahyu.
Ketika Budaya Menjadi Jalan Pengabdian
Sepanjang rangkaian kegiatan, masyarakat larut dalam suasana yang penuh kehangatan. Tidak ada sekat antara tokoh masyarakat, akademisi, aparat pemerintah, maupun warga. Semua hadir dalam satu semangat yang sama: merawat budaya sebagai rumah bersama.
Panceg Rupa membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui dokumentasi atau seremoni semata. Budaya akan tetap hidup ketika dipraktikkan, dirawat, diajarkan, dan diwariskan melalui kebersamaan yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri.
Lebih dari sebuah kegiatan adat, Panceg Rupa adalah ruang perjumpaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar budaya, melainkan menjadikannya fondasi untuk membangun peradaban yang berkarakter.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat Desa Jatisari telah menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki tempat yang terhormat. Selama nilai gotong royong, kepedulian, rasa syukur, dan kecintaan terhadap budaya terus dipelihara, maka warisan leluhur akan tetap hidup, mengalir dari satu generasi kepada generasi berikutnya sebagai cahaya yang menerangi perjalanan bangsa.
Penulis: Tim Redaksi ASBI News
Editor: Redaksi Nasional ASBI News
![]()



