ASBI News, Jawa Barat – Kasus dugaan bayi tertukar di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Seorang ibu bernama Nina Saleha mengungkap kronologi mengejutkan yang dialaminya saat bayinya menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
Peristiwa ini pertama kali mencuat setelah curhatan korban viral di TikTok pada awal April 2026. Dalam pengakuannya, Nina mengaku hampir kehilangan bayinya karena diduga terjadi kesalahan saat proses penyerahan bayi di ruang perawatan.
Berdasarkan keterangan korban dan sejumlah laporan media, kejadian bermula saat bayi Nina yang baru lahir dirujuk ke RSHS pada 5 April 2026 karena mengalami gejala kuning dan harus dirawat di ruang khusus bayi (NHCU/NICU).
Saat proses perawatan hingga menjelang kepulangan, Nina mengaku menemukan kejanggalan. Ia merasa bayi yang hendak diserahkan kepadanya berbeda, mulai dari pakaian hingga ciri fisik yang dikenalnya.
Kecurigaan itu membuat Nina langsung mempertanyakan kepada petugas dan memastikan identitas bayinya.
Dari sinilah dugaan bayi nyaris tertukar mencuat dan menjadi viral di media sosial.
Pihak RSHS Bandung memberikan klarifikasi bahwa insiden tersebut merupakan kesalahan prosedural yang tidak disengaja.
Menurut keterangan manajemen, kejadian terjadi karena petugas terdistraksi saat proses penyerahan bayi, sehingga hampir terjadi kekeliruan identifikasi.
Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa insiden ini bukan tindakan kriminal, melainkan kelalaian atau kekhilafan dalam pelayanan.
Sebagai tindak lanjut, pihak rumah sakit telah:
- Menonaktifkan sementara perawat yang terlibat
- Melakukan evaluasi internal
- Berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan
Merasa tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan, Nina akhirnya melaporkan oknum perawat berinisial “N” ke Polda Jawa Barat pada 17 April 2026.
Laporan tersebut teregistrasi resmi dan kini dalam proses penyelidikan. Pihak keluarga juga melayangkan somasi kepada rumah sakit, menuntut transparansi atas kejadian yang dinilai membahayakan keselamatan bayi.
Kasus ini mendapat perhatian luas, termasuk dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mendesak adanya sanksi tegas serta transparansi dari pihak rumah sakit.
Insiden ini juga memicu evaluasi serius terhadap sistem keamanan pasien, khususnya dalam penanganan bayi di rumah sakit.
Kasus dugaan bayi tertukar di RSHS Bandung menjadi pengingat pentingnya standar keselamatan dan prosedur identifikasi pasien di fasilitas kesehatan.
Meski dinyatakan sebagai kelalaian, dampak psikologis bagi keluarga korban serta kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan menjadi taruhan besar. Proses hukum yang berjalan diharapkan dapat mengungkap fakta secara transparan sekaligus mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.
![]()
