Jakarta, 7 Juli 2026 – Fenomena aphelion kembali menjadi pembahasan hangat di media sosial bertepatan dengan terjadinya peristiwa astronomi tersebut pada Selasa (7/7/2026). Sejumlah unggahan yang beredar mengklaim bahwa posisi Bumi yang berada pada titik terjauh dari Matahari menjadi penyebab suhu udara terasa lebih dingin di berbagai daerah Indonesia.
Narasi tersebut bahkan berkembang dengan berbagai klaim lain, mulai dari meningkatnya risiko penyakit musiman hingga imbauan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Informasi tersebut dengan cepat menyebar melalui berbagai platform digital dan aplikasi percakapan, sehingga memunculkan beragam pertanyaan dari masyarakat mengenai kebenarannya.
Menanggapi hal itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali memberikan penjelasan bahwa fenomena aphelion tidak memiliki hubungan langsung dengan perubahan cuaca maupun penurunan suhu udara di Indonesia. BMKG menegaskan, aphelion merupakan fenomena astronomi tahunan yang terjadi ketika Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari dalam lintasan orbitnya.
Menurut BMKG, posisi tersebut merupakan bagian dari siklus alami revolusi Bumi yang berlangsung setiap tahun dan tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap kondisi atmosfer. Jarak Bumi dengan Matahari memang bertambah menjadi sekitar 152 juta kilometer saat aphelion, namun perubahan tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan jarak orbit Bumi sehingga tidak memengaruhi suhu udara secara drastis.
BMKG menjelaskan bahwa udara yang terasa lebih sejuk pada bulan Juli justru merupakan karakteristik musim kemarau di Indonesia. Pada periode ini, angin muson timur membawa massa udara yang lebih dingin dan kering dari Benua Australia menuju wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara, terutama pada malam hingga dini hari, terasa lebih rendah dibandingkan musim penghujan.
Selain dipengaruhi oleh angin muson, minimnya tutupan awan selama musim kemarau juga membuat panas yang tersimpan di permukaan Bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer saat malam hari. Akibatnya, suhu udara pada pagi hari menjadi lebih dingin. Fenomena ini telah lama menjadi bagian dari pola cuaca musiman di Indonesia dan tidak berkaitan dengan aphelion.
Para ahli astronomi juga menjelaskan bahwa pergantian musim di Bumi tidak ditentukan oleh jarak Bumi terhadap Matahari, melainkan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi sekitar 23,5 derajat. Inilah yang menyebabkan belahan Bumi utara sedang mengalami musim panas ketika aphelion berlangsung, sementara belahan Bumi selatan memasuki musim dingin.
Fakta tersebut menjadi bukti bahwa kedekatan maupun jauhnya posisi Bumi dari Matahari bukanlah faktor utama yang menentukan suhu udara di suatu wilayah. Dengan kata lain, aphelion tidak dapat dijadikan penyebab cuaca dingin ekstrem sebagaimana yang banyak beredar di media sosial.
Tidak hanya BMKG, sejumlah akademisi di bidang astronomi juga mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi mengenai fenomena alam. Setiap tahun, isu serupa hampir selalu kembali muncul dan beredar luas tanpa disertai penjelasan ilmiah yang memadai. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan literasi sains di tengah masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
Di sisi lain, para tenaga kesehatan menjelaskan bahwa meningkatnya kasus batuk, pilek, atau infeksi saluran pernapasan pada musim kemarau lebih dipengaruhi oleh kondisi udara yang lebih kering, perubahan suhu siang dan malam yang cukup besar, serta daya tahan tubuh masing-masing individu. Tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa aphelion secara langsung menyebabkan peningkatan kasus penyakit.
BMKG mengimbau masyarakat agar memperoleh informasi mengenai cuaca, iklim, maupun fenomena astronomi hanya dari sumber resmi yang dapat dipertanggungjawabkan. Penyebaran informasi yang tidak didukung fakta ilmiah berpotensi menimbulkan kesalahpahaman bahkan kepanikan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Masyarakat juga diimbau tetap menjaga kesehatan selama musim kemarau dengan memenuhi kebutuhan cairan tubuh, mengonsumsi makanan bergizi, menggunakan pakaian yang sesuai ketika suhu udara terasa lebih dingin pada malam atau pagi hari, serta menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi risiko berbagai penyakit musiman.
Fenomena aphelion sendiri merupakan salah satu peristiwa astronomi yang rutin terjadi setiap tahun dan menjadi bagian dari dinamika tata surya. Peristiwa ini tidak perlu disikapi dengan rasa khawatir, melainkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai ilmu pengetahuan sekaligus pentingnya memilah informasi sebelum mempercayai maupun membagikannya kepada orang lain.
Dengan semakin mudahnya penyebaran informasi melalui media digital, masyarakat diharapkan semakin bijak dalam menyikapi setiap kabar yang viral. Mengedepankan informasi berbasis data dan penjelasan ilmiah menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran hoaks sekaligus membangun budaya literasi yang lebih baik di Indonesia.
![]()
