Palu, Sulawesi Tengah – Suasana tenang di Kota Palu mendadak berubah menjadi kepanikan pada Selasa pagi, 16 Juni 2026. Guncangan keras yang datang tanpa peringatan membuat warga berhamburan keluar rumah, kantor, sekolah, hingga rumah sakit demi menyelamatkan diri.
Di sejumlah rumah sakit, pasien yang sedang menjalani perawatan dievakuasi keluar gedung. Sebagian pasien terlihat duduk di halaman rumah sakit sambil menunggu kondisi dinyatakan aman. Warga mengaku merasakan getaran sangat kuat yang berlangsung beberapa detik dan membuat bangunan bergoyang hebat.
Gempa berkekuatan Magnitudo 6,7 itu berpusat sekitar 42 kilometer tenggara Palu pada kedalaman 10 kilometer. Meski tidak berpotensi tsunami, kekuatan gempa cukup besar untuk memicu kepanikan luas di berbagai wilayah Sulawesi Tengah.

Dampak paling berat dilaporkan terjadi di Kabupaten Sigi. Satu warga dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka ringan hingga berat. Banyak keluarga harus meninggalkan rumah mereka karena khawatir bangunan yang telah retak akan runtuh saat gempa susulan terjadi.
Selain korban manusia, kerusakan fisik juga terlihat di berbagai lokasi. Tembok rumah warga roboh, bangunan mengalami retak struktural, dan beberapa ruas jalan dilaporkan mengalami kerusakan. Tim gabungan BPBD bersama aparat setempat terus melakukan pendataan untuk memastikan seluruh dampak bencana dapat ditangani dengan cepat.
Yang membuat warga semakin cemas adalah rentetan gempa susulan yang terus terjadi. Hingga 17 Juni, BMKG masih mencatat puluhan hingga lebih dari 70 gempa susulan. Setiap getaran baru membuat sebagian warga kembali keluar rumah dan memilih bertahan di tempat terbuka.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari BMKG serta BPBD. Sementara itu, berbagai bantuan darurat mulai disalurkan kepada warga terdampak untuk membantu proses pemulihan pascabencana.
![]()
