ASBI News, Kabupaten Bandung – Candi Bojongmas di Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, seharusnya menjadi kebanggaan bersama. Ia bukan sekadar tumpukan batu tua, melainkan penanda sejarah peradaban, bukti bahwa wilayah Bandung telah hidup dan berkembang sejak ratusan tahun silam. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan kondisi yang miris dan memprihatinkan.
Situs bersejarah ini kini terkesan dibiarkan berjalan sendiri tanpa arah pelestarian yang jelas. Area yang tidak terawat, semak belukar yang tumbuh liar, serta papan informasi yang rusak, kusam, bahkan tidak layak dilihat, menjadi simbol nyata dari lemahnya perhatian terhadap warisan budaya.

Padahal, dari berbagai kajian dan pemberitaan media, Candi Bojongmas diyakini sebagai peninggalan masa Kerajaan Sunda kuno dengan pengaruh Hindu-Buddha, yang diperkirakan berdiri pada rentang abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Ini menandakan bahwa Kabupaten Bandung memiliki nilai sejarah tinggi yang sejajar dengan wilayah-wilayah lain di Jawa Barat yang lebih dulu dikenal publik.
Ironisnya, nilai sejarah tersebut tidak tercermin dari cara situs ini diperlakukan hari ini. Papan informasi yang rusak dan tidak terbaca bukan sekadar persoalan estetika, tetapi menunjukkan hilangnya fungsi edukasi. Bagaimana generasi muda dapat mengenal sejarahnya sendiri jika informasi dasar saja diabaikan?
Redaksi ASBI News menilai, pelestarian cagar budaya tidak selalu harus dimulai dari proyek besar dan mahal. Langkah sederhana seperti pembaruan papan informasi yang layak, perawatan rutin lingkungan, serta penataan kawasan sudah menjadi bentuk penghormatan terhadap sejarah. Namun sayangnya, langkah-langkah dasar ini pun belum terlihat maksimal di Candi Bojongmas.
Lebih jauh, pengabaian terhadap situs sejarah juga berarti menyia-nyiakan peluang. Dengan pengelolaan yang tepat, Candi Bojongmas dapat berkembang menjadi destinasi wisata edukasi, pusat pembelajaran sejarah lokal, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat sekitar.
Redaksi ASBI News mendorong Pemerintah Kabupaten Bandung, dinas terkait, serta instansi pelestarian cagar budaya untuk tidak lagi memandang situs sejarah sebagai beban, melainkan sebagai aset. Sinergi dengan akademisi, komunitas sejarah, dan masyarakat lokal menjadi kunci agar pelestarian berjalan berkelanjutan.
Jika hari ini Candi Bojongmas dibiarkan pudar, maka yang hilang bukan hanya batu dan struktur bangunan, tetapi ingatan kolektif, identitas budaya, dan jati diri daerah. Sejarah tidak meminta banyak—ia hanya meminta untuk tidak dilupakan.
![]()
