JAKARTA, ASBI News — Komika nasional Pandji Pragiwaksono kembali menjadi sorotan publik setelah materi stand up comedy terbarunya berjudul “Mens Rea” menuai kontroversi dan menjadi perbincangan luas di media sosial. Tayangan yang dirilis melalui platform Netflix tersebut viral karena dinilai memuat sindiran terhadap aparat negara, termasuk kepolisian dan sistem penegakan hukum di Indonesia.
Sejumlah media nasional melaporkan, potongan materi Mens Rea beredar luas di berbagai platform digital sejak awal Januari 2026. Materi tersebut memicu perdebatan publik terkait batas kebebasan berekspresi, kritik sosial, dan etika dalam menyampaikan satire melalui komedi.
Sindiran Aparat dan Isu Hukum
Dalam pertunjukan tersebut, Pandji mengangkat tema besar tentang niat, kekuasaan, dan hukum. Melalui gaya satire khas stand up comedy, ia menyoroti persepsi publik terhadap keadilan hukum, perlakuan yang dianggap tidak setara di hadapan hukum, serta posisi aparat penegak hukum dalam kehidupan sosial masyarakat.
Meski tidak menyebut individu atau institusi secara eksplisit, sejumlah pihak menilai narasi dan ilustrasi yang digunakan menyasar institusi tertentu, termasuk kepolisian. Hal inilah yang kemudian memicu reaksi keras dari sebagian kelompok masyarakat.
Laporan ke Polda Metro Jaya
Berdasarkan pemberitaan sejumlah media arus utama, Polda Metro Jaya telah menerima laporan masyarakat terkait materi Mens Rea. Laporan tersebut dilayangkan oleh kelompok masyarakat yang menilai materi Pandji berpotensi merendahkan institusi dan menimbulkan kegaduhan publik.
Pihak kepolisian membenarkan adanya laporan tersebut dan menyatakan bahwa kasus masih berada dalam tahap awal penanganan, meliputi pengumpulan bukti, pendalaman materi, serta klarifikasi dari pelapor.
Proses Sesuai Prosedur
Kepolisian menegaskan bahwa setiap laporan masyarakat akan ditangani secara profesional dan objektif, dengan tetap mengedepankan prinsip praduga tak bersalah. Hingga saat ini, belum ada pemanggilan maupun penetapan status hukum terhadap Pandji Pragiwaksono.
Aparat juga mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi berlebihan dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak berwenang.
Respons Tokoh Publik dan Pengamat
Sejumlah tokoh publik, pengamat hukum, dan anggota legislatif yang dikutip berbagai media nasional menilai bahwa kritik melalui seni dan komedi merupakan bagian dari kebebasan berekspresi dalam negara demokratis. Namun, mereka juga mengingatkan pentingnya menjaga etika serta sensitivitas publik.
Di sisi lain, terdapat pandangan yang menilai institusi negara perlu dijaga marwahnya, sehingga kritik sebaiknya disampaikan secara konstruktif dan tidak menimbulkan tafsir negatif di masyarakat.
Pandji: Komedi sebagai Kritik Sosial
Dalam berbagai pernyataan sebelumnya yang dikutip media, Pandji menegaskan bahwa Mens Rea merupakan karya kritik sosial, bukan serangan personal atau institusional. Ia menyebut komedi sebagai medium refleksi dan diskusi atas realitas sosial dan hukum yang terjadi di Indonesia.
Hingga berita ini diturunkan, Pandji belum menyampaikan pernyataan resmi terkait laporan yang masuk ke kepolisian. Namun pihak terdekatnya menyatakan bahwa Pandji menghormati proses hukum dan bersikap kooperatif.
Opini Publik Terbelah
Polemik ini memunculkan perdebatan luas di ruang publik. Sebagian masyarakat menilai laporan terhadap Pandji sebagai bentuk pembatasan kritik, sementara pihak lain mendukung langkah hukum demi menjaga kehormatan institusi negara.
Isu ini pun berkembang menjadi diskursus nasional mengenai batas kebebasan berekspresi, kritik terhadap aparat, dan peran seni dalam demokrasi.
![]()
