LONDON, INGGRIS — Dua tahanan yang terafiliasi dengan kelompok aktivis pro-Palestina Palestine Action telah dibawa ke rumah sakit setelah menjalani mogok makan berkepanjangan di penjara Inggris, memicu kekhawatiran luas dari keluarga, pengacara, dan pendukung soal kondisi kesehatan mereka yang kian memburuk dan potensi risiko kematian.
Amu Gib (30), yang ditahan di HMP Bronzefield di Surrey, dan Kamran Ahmed (28), yang ditahan di Pentonville Prison di London, telah menolak makanan selama lebih dari 40 hari sebagai bentuk protes terhadap status hukum mereka dan kondisi penahanan mereka sambil menunggu persidangan. Gib dilaporkan telah memasuki hari ke-50 tanpa makanan saat dibawa ke rumah sakit akhir pekan lalu. Ahmed, yang telah mengalami penurunan berat badan drastis, dirawat dalam keadaan kritis setelah menjalani 42 hari mogok makan.
Keduanya merupakan bagian dari delapan tahanan yang melakukan mogok makan sejak awal November 2025, yang kini telah mengakibatkan beberapa di antaranya dimasukkan ke unit perawatan intensif atau rumah sakit karena kondisi fisik yang sangat buruk.
Alasan Mogok Makan & Tuntutan Aktivis
Para tahanan tersebut menolak makanan sebagai protes terhadap beberapa hal yang mereka anggap tidak adil, antara lain:
• Penahanan pra-persidangan yang berkepanjangan, yang menurut mereka melampaui batas waktu yang wajar tanpa putusan hukuman;
• Larangan terhadap kelompok Palestine Action, yang oleh pemerintah Inggris telah diberi label sebagai organisasi ekstremis sejak pertengahan tahun ini;
• Keterbatasan komunikasi dengan keluarga dan akses ke hak-hak dasar tahanan seperti fasilitas pendidikan dan surat.
Kamran Ahmed, dalam beberapa wawancara telepon yang dilaporkan keluarga, mengatakan bahwa keputusan mogok makan adalah bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina yang ia yakini menjadi sasaran penindasan. Ia juga menyebutkan efek kesehatan yang parah, termasuk nyeri dada, kelemahan ekstrem, serta gangguan metabolik akibat kekurangan gizi yang berkepanjangan.
Kondisi Kesehatan yang Memburuk
Gib dilaporkan telah kehilangan lebih dari 10 kilogram sejak awal mogok makan dan kini memerlukan kursi roda untuk bergerak saat dibawa ke rumah sakit. Kameran video medis menunjukkan tanda-tanda kelelahan ekstrem dan ketergantungan pada cairan untuk mempertahankan fungsi tubuh dasar. Ahmed, yang pernah dirawat dua kali sebelumnya selama aksi hunger strike, kini menunjukkan tanda-tanda risiko kerusakan organ dan masalah metabolik yang serius.
Pihak berwenang penjara menyatakan bahwa mereka menyediakan akses layanan medis dan perawatan kesehatan dasar sesuai protokol, meskipun kritik dari para dokter independen dan advokat hak asasi mengatakan bahwa tingkat perawatan belum memadai mengingat kondisi kritis para aktivis.
Reaksi Publik & Tekanan Politik
Kasus ini telah menarik perhatian dari berbagai kalangan, termasuk anggota parlemen, kampanye hak asasi, dan masyarakat sipil di Inggris. Puluhan legislator telah mendesak Menteri Kehakiman Inggris serta pejabat penjara untuk turun tangan, menyatakan bahwa penahanan tanpa putusan dan respon terhadap mogok makan telah mencapai titik krisis kemanusiaan. Namun, hingga kini permintaan pertemuan antara perwakilan tahanan dan pejabat tinggi pemerintah belum direspon secara langsung.
Para pendukung juga menyatakan bahwa kasus ini mencerminkan dinamika lebih luas terkait kebebasan sipil, hak tertuduh dalam sistem hukum, serta sensitivitas politik terhadap protes pro-Palestina di luar negeri.
![]()
