
Aceh — Banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu hujan ekstrem serta sistem cuaca siklon tropis telah melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh, menewaskan ratusan warga dan menyebabkan kerusakan infrastruktur luas. Bencana ini juga turut berdampak pada provinsi tetangga seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat, dengan korban jiwa total di tiga provinsi telah melampaui 1.000 orang menurut data terkini BNPB.
Menurut laporan terbaru, angka korban tewas akibat banjir bandang dan longsor di Aceh mencapai sekitar 424 orang, dengan 32 warga lainnya masih dinyatakan hilang dan diperkirakan masih dalam pencarian. Lebih dari 4.300 orang mengalami luka-luka di Aceh. Secara keseluruhan di tiga provinsi, korban tewas mencapai 1.022 jiwa, sekitar 206 orang hilang, dan lebih dari 7.000 orang luka-luka.
Wilayah-wilayah di Aceh yang paling parah terdampak antara lain:
- Aceh Tamiang — sejumlah desa terdampak banjir bandang, permukiman rusak dan sejumlah warga terpaksa dievakuasi;
- Aceh Barat — ribuan hektare sawah rusak akibat banjir bandang yang menghancurkan lahan pertanian;
- Southeast Aceh, North Aceh, Bireuen, dan Pidie Jaya — dilaporkan terdapat korban meninggal serta kerusakan permukiman.
Data BNPB juga menunjukkan bahwa bencana ini telah merusak lebih dari 158.000 rumah, menghancurkan infrastruktur publik 1.200 fasilitas umum, serta menimbulkan kerusakan pada ratusan rumah ibadah, sekolah, jembatan, dan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak.
Evakuasi dan Kondisi Pengungsi
Sejak banjir menerjang, ribuan warga Aceh dipaksa meninggalkan rumah mereka dan tinggal di tenda pengungsian, balai desa, maupun fasilitas umum yang disulap menjadi lokasi evakuasi. Warga menghadapi tantangan berat seperti kekurangan makanan, air bersih, dan akses kesehatan akibat jalan yang tertutup lumpur serta terputusnya jaringan komunikasi di beberapa daerah terpencil.
Petugas gabungan dari BNPB, BPBD Provinsi Aceh, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan operasi pencarian dan bantuan logistik. Upaya pembersihan material lumpur dan perbaikan akses jalan tengah dilakukan dengan melibatkan alat berat untuk mempercepat mobilisasi bantuan dan evakuasi.
Respon Pemerintah dan Bantuan
Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat bencana untuk mempercepat penanganan di lapangan. Pemerintah pusat juga turut serta memperkuat respon darurat dengan pengiriman personel, logistik, serta dukungan kesehatan.
Presiden Republik Indonesia menyatakan bahwa upaya pemulihan di wilayah terdampak diharapkan bisa membawa kondisi kembali normal dalam 2–3 bulan mendatang, meskipun tantangan di lapangan masih tinggi.
Selain itu, dukungan dari lembaga internasional dan organisasi kemanusiaan terus mengalir untuk membantu warga yang terdampak, khususnya di sektor kesehatan, sanitasi, dan penyediaan kebutuhan dasar.
Imbauan dan Potensi Risiko Lanjutan
BPBD dan BMKG mengimbau masyarakat di wilayah rawan banjir dan longsor untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat susulan yang dapat memicu banjir baru atau longsor di daerah perbukitan. Warga yang tinggal di dataran rendah atau tepi sungai diminta untuk selalu memantau informasi terkini dari pihak berwenang dan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman apabila situasi memburuk.
![]()
