ASBI News, Jakarta – Industri Kecil Menengah (IKM) sektor konveksi dan Tekstil Produk Tekstil (TPT) tengah berada dalam tekanan serius. Lonjakan harga bahan baku seperti kain, plastik, dan karet kini tidak hanya menggerus margin usaha, tetapi juga mengancam keberlangsungan industri yang selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja.
Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, menilai kondisi ini sudah memasuki fase kritis. Ia menegaskan bahwa pelaku IKM saat ini tidak hanya menghadapi persoalan biaya produksi, tetapi juga tekanan dari sisi pasar yang semakin tidak kompetitif.
“Kenaikan bahan baku membuat ruang keuntungan semakin sempit. Di sisi lain, pasar kita juga tertekan oleh produk impor yang masuk dengan harga tidak wajar. Ini situasi yang sangat berat bagi IKM,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah harus segera mengambil langkah konkret untuk menjaga keseimbangan antara hulu dan hilir industri. Stabilitas harga bahan baku harus diiringi dengan perlindungan pasar domestik agar pelaku usaha lokal tetap memiliki ruang bertahan.
“Selama pasar domestik terjaga, permintaan tetap ada dan IKM masih bisa bergerak. Tapi kalau pasar dibiarkan, maka kenaikan bahan baku akan langsung memukul habis pelaku usaha kecil,” tegas Nandi Herdiaman.
Kondisi di lapangan menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Sejumlah pelaku IKM mulai melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah tenaga kerja. Langkah ini dinilai sebagai sinyal awal potensi gelombang PHK yang lebih luas.
“Banyak IKM sudah mulai merumahkan karyawan. Ini bukan lagi isu kecil, tapi peringatan serius. Jika tidak segera ditangani, mata rantai industri tekstil yang padat karya bisa terputus,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti maraknya produk impor ilegal serta praktik predatory pricing di platform digital yang semakin menekan daya saing produk lokal. Tanpa pengawasan yang ketat, kondisi ini dinilai akan mempercepat melemahnya industri dalam negeri.
Dalam pernyataannya, IPKB menegaskan bahwa pelaku IKM membutuhkan dua hal utama untuk bertahan, yakni kepastian pasokan bahan baku dengan harga yang wajar serta kepastian pasar yang sehat dan terlindungi.
“Kalau dua hal ini tidak terpenuhi, maka industri ini akan pelan-pelan mati. Dampaknya bukan hanya pada pelaku usaha, tetapi juga pada jutaan tenaga kerja yang bergantung pada sektor ini,” pungkas Nandi Herdiaman.
Situasi ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar segera mengambil langkah strategis. Tanpa intervensi yang tepat, sektor IKM tekstil berpotensi mengalami penurunan signifikan yang berdampak luas terhadap ekonomi nasional.
![]()
