ASBI News, Jakarta – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus level USD 100 per barel di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah. Lonjakan ini memicu kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan pasokan energi dan meningkatnya tekanan inflasi di berbagai negara.
Data pasar menunjukkan minyak mentah jenis Brent Crude telah melampaui angka USD 100 per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan harga tersebut terjadi setelah muncul kekhawatiran bahwa konflik di kawasan Timur Tengah dapat mengganggu jalur distribusi energi strategis dunia.
Analis energi menilai situasi geopolitik di kawasan tersebut berpotensi memicu ketidakpastian pasokan minyak global. Ketegangan yang meningkat membuat pelaku pasar khawatir terhadap kemungkinan gangguan pada pengiriman minyak dari negara-negara produsen utama di kawasan Teluk.
Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati selat tersebut setiap harinya, sehingga setiap potensi gangguan keamanan di wilayah ini dapat langsung berdampak pada stabilitas harga energi internasional.
Kenaikan harga minyak juga dikhawatirkan akan mendorong inflasi di banyak negara. Biaya energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan harga transportasi, produksi industri, hingga kebutuhan rumah tangga.
Sejumlah ekonom memperkirakan jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut dan mengganggu distribusi minyak, harga energi global berpotensi bertahan tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi ini dapat menambah tekanan bagi perekonomian dunia yang masih menghadapi ketidakpastian pemulihan ekonomi global.
Pemerintah di berbagai negara kini memantau perkembangan situasi dengan cermat, sambil mempertimbangkan langkah kebijakan untuk meredam dampak lonjakan harga energi terhadap ekonomi domestik.
![]()
