A surfer on the waves of the ocean in the Copacabana beach
ASBINews, Jakarta – Sebuah prediksi bencana besar di Indonesia yang diklaim berasal dari “anak indigo” dan beredar luas di media sosial kini menjadi salah satu topik yang ramai dibicarakan masyarakat. Dalam berbagai unggahan dan video berdurasi panjang yang viral di platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, disebutkan bahwa pada tahun 2026 bakal terjadi rentetan bencana alam besar mulai dari gempa besar berskala megathrust hingga berbagai krisis lainnya yang tidak hanya berdampak lokal tetapi nasional.
Konten tersebut kerap dilengkapi narasi dramatis dengan berbagai prediksi, termasuk potensi demo besar, krisis listrik, hingga ancaman “people power”, yang turut memicu diskusi dan ketakutan di kalangan netizen.
Namun, sebagian besar narasi tersebut muncul tanpa dasar ilmiah atau dukungan data resmi dari lembaga pemerintahan terkait, sehingga menimbulkan perdebatan apakah konten tersebut harus dianggap fakta atau hanya sekadar klaim.
BMKG: Tidak Ada Prediksi Bencana Spesifik 2026
Dalam menanggapi keresahan publik yang muncul, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara tegas menyatakan bahwa tidak pernah mengeluarkan prediksi spesifik soal gempa besar atau bencana dahsyat pada tahun 2026 sebagaimana yang beredar di media sosial.
BMKG menjelaskan bahwa sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan, di mana, dan seberapa besar suatu gempa akan terjadi secara akurat termasuk gempa megathrust yang sering disebut dalam konten viral tersebut. Lembaga itu juga menegaskan bahwa informasi viral yang mencatut nama atau logo BMKG untuk menyatakan prediksi seperti itu adalah hoaks/ tidak benar.
“Informasi semacam itu tidak pernah kami keluarkan dan bukan merupakan pengumuman resmi BMKG,” ujar Plt. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Rahmat Triyono menjelaskan bahwa potensi gempa merupakan kajian risiko umum, tetapi bukan prediksi waktu kejadian.
Tidak Ada Dasar Ilmiah untuk Ramalan Bencana
Sejumlah unggahan viral yang menampilkan peta zona merah atau visual alarm bencana sering terlihat meyakinkan, namun menurut BMKG identitas visual seperti logo dalam poster tersebut justru bukan logo resmi lembaga, sehingga menimbulkan kekeliruan informasi.
Para ahli juga menekankan bahwa:
- Ilmu pengetahuan saat ini hanya dapat mengidentifikasi potensi risiko bencana, bukan meramalkan kejadian pasti.
- Informasi tentang potensi bahaya hanya bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, bukan sebagai prediksi waktu dan tempat kejadian.
Selain soal gempa, isu ramalan tanggal spesifik kejadian gempa dan tsunami di awal Maret 2026 juga sempat viral hingga membuat publik menjadi resah. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui perwakilannya menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar dan merupakan hoaks yang mencatut nama BMKG.
Terlepas dari hoaks ramalan, Indonesia memang merupakan salah satu negara dengan risiko bencana tinggi — mulai dari gempa bumi, tanah longsor, hingga banjir dan badai tropis karena letak geografisnya yang berada di Cincin Api Pasifik dan dipengaruhi berbagai fenomena iklim global seperti El Niño dan La Niña yang berubah sepanjang tahun.
Sebagai contoh, data menunjukkan terdapat sejumlah kejadian gempa dan bencana hidrometeorologi sepanjang awal 2026 yang membutuhkan mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat dan lembaga terkait.
Imbauan Resmi
BMKG dan lembaga terkait terus mengimbau masyarakat untuk:
- Memverifikasi sumber informasi sebelum menyimpulkan sebagai fakta, terutama prediksi yang tidak didukung bukti ilmiah.
- Mengandalkan informasi dari kanal resmi lembaga pemerintah, seperti situs BMKG dan BNPB, untuk mendapatkan data cuaca dan bencana yang akurat dan aktual.
- Meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana pada kehidupan sehari‑hari, karena potensi risiko bencana adalah fakta, bukan ramalan tak berdasar.
![]()
