ASBINews, Teheran — Dunia dikejutkan oleh serangan militer besar-besaran yang dilancarkan oleh Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Operasi gabungan ini disebut sebagai salah satu eskalasi paling signifikan dalam dinamika geopolitik Timur Tengah dalam satu dekade terakhir.
Serangan yang dimulai pada 28 Februari itu menargetkan berbagai fasilitas militer strategis, pusat komando, serta infrastruktur pertahanan udara Iran. Ledakan besar dilaporkan mengguncang ibu kota Teheran serta beberapa kota penting lainnya. Otoritas Iran langsung menutup wilayah udara nasional menyusul serangan tersebut.
Menurut laporan berbagai media internasional, operasi militer ini melibatkan jet tempur canggih, rudal jarak jauh, serta sistem pertahanan elektronik untuk melumpuhkan radar dan jaringan komando Iran. Sejumlah fasilitas rudal balistik dan pangkalan militer dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Langkah ini disebut sebagai respons atas meningkatnya ketegangan regional dalam beberapa bulan terakhir, termasuk tuduhan aktivitas militer Iran yang dianggap mengancam kepentingan keamanan Israel dan sekutunya.
Tak tinggal diam, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah target militer yang berkaitan dengan kepentingan AS dan Israel di kawasan. Sirene peringatan serangan udara terdengar di beberapa wilayah, memicu kepanikan warga dan meningkatkan status siaga di berbagai negara Timur Tengah.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan pecahnya perang regional berskala luas yang dapat menyeret lebih banyak negara ke dalam konflik terbuka.
Ketegangan ini langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak dunia melonjak tajam akibat kekhawatiran gangguan distribusi energi dari kawasan Teluk, termasuk potensi ancaman terhadap Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.
Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat, sementara sejumlah pemimpin dunia menyerukan de-eskalasi dan gencatan senjata untuk mencegah konflik semakin meluas.
Para analis menilai konflik ini bisa menjadi titik balik besar dalam peta politik global. Jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi, eskalasi militer berisiko berkembang menjadi perang terbuka yang berdampak panjang terhadap stabilitas internasional.
Hingga saat ini, situasi di lapangan masih terus berkembang, dan komunitas internasional menanti langkah berikutnya dari ketiga negara yang terlibat langsung dalam krisis ini.
![]()
