ASBI News, Kannur, India — Isu perdagangan dan tekanan politik internasional kembali menjadi sorotan global setelah Rahul Gandhi, tokoh politik senior dari Partai Kongres India, melontarkan tuduhan tajam terhadap Pemerintah India terkait kesepakatan dagang dengan Donald Trump dan Amerika Serikat. Dalam pidatonya di sebuah konvensi petani di distrik Kannur, Gandhi menuduh bahwa Presiden AS telah mendesak keras Perdana Menteri India untuk menandatangani perjanjian dagang yang disebutnya merugikan kepentingan nasional dan menyengsarakan petani India.
Gandhi menyatakan bahwa kesepakatan tersebut dibuat “sebagai akibat tekanan eksternal”, dan bahwa perjanjian itu “mengorbankan petani India” dengan membuka pasar domestik bagi produk pertanian AS yang jauh lebih bersaing secara mekanisasi dibandingkan pertanian lokal. Ia menilai keputusan pemerintah menyetujui kesepakatan tersebut sebagai langkah yang “menggali fondasi ekonomi bangsa”.
Pernyataan keras ini juga disertai tuduhan lain bahwa kesepakatan itu menguntungkan kepentingan politik dan ekonomi tertentu, sementara sektor-sektor penting seperti pertanian dan industri kecil justru terancam kerugian. Gandhi menekankan pentingnya menghormati kontribusi petani sebagai “fondasi negara” dan menolak narasi pemerintah yang lebih menekankan pada sektor teknologi dan jasa.
Tuduhan tersebut memicu reaksi politik luas di dalam negeri India. Di negara bagian Rajasthan, legislator dari Partai Kongres bahkan menggelar aksi protes dengan memakai kaos bertuliskan “PM Modi is compromised” sebagai kritik terhadap Perdana Menteri Narendra Modi atas perjanjian dagang tersebut, memperlihatkan bagaimana isu internasional ini menjadi bahan polemik domestik yang tajam.
Sementara itu, Pemerintah India belum memberikan tanggapan resmi terhadap klaim tekanan dari Amerika Serikat. Pemerintah sebelumnya membantah keterkaitan masalah hukum dan politik eksternal dalam kebijakan perdagangan, tetapi kritik dari tokoh oposisi terus bergulir dan menjadi topik perdebatan hangat di media serta parlemen.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa dinamika hubungan dagang India–AS kini tak hanya dipandang sebagai isu ekonomi bilateral, tetapi juga telah berubah menjadi amunisi politik domestik yang tajam menjelang agenda politik nasional berikutnya.
![]()
