ASBI News, Jakarta – Polisi Metro Jakarta Pusat menyampaikan permohonan maaf setelah video yang menuding es gabus atau es jadul terbuat dari bahan spons viral di media sosial. Klarifikasi dan permintaan maaf tersebut disampaikan setelah video pemeriksaan terhadap seorang pedagang es gabus menuai polemik dan kekhawatiran publik.
Seperti diberitakan SinPo.id, pihak kepolisian mengakui bahwa tudingan dalam video tersebut merupakan kesalahpahaman. Setelah dilakukan pengecekan, polisi memastikan es gabus yang dijual pedagang tersebut aman dikonsumsi dan tidak mengandung bahan berbahaya.
Hal senada dilaporkan Liputan6.com, yang menyebutkan bahwa Polres Metro Jakarta Pusat telah melakukan klarifikasi langsung kepada pedagang. Dalam keterangannya, polisi juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kegaduhan yang terjadi akibat beredarnya video tersebut.
Sementara itu, menurut laporan Detik.com, kasus ini bermula saat aparat melakukan pemeriksaan lapangan terhadap pedagang es gabus. Pernyataan dalam video yang menyebut tekstur es menyerupai spons kemudian disalahartikan dan berkembang menjadi tuduhan bahwa es tersebut dibuat dari bahan spons.
Kompas.com menyoroti reaksi masyarakat yang ramai memberikan simpati kepada pedagang kecil tersebut. Banyak warganet menilai kejadian ini mencerminkan pentingnya kehati-hatian aparat dalam menyampaikan dugaan agar tidak merugikan pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidup dari usaha harian.
Dalam pemberitaan Tribunnews.com, pihak kepolisian menyatakan akan melakukan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang. Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa klarifikasi resmi.
Pedagang es gabus yang sempat viral kini dikabarkan telah kembali berjualan. Sejumlah media melaporkan bahwa pedagang tersebut menerima permintaan maaf dari pihak kepolisian dan berharap ke depan tidak ada lagi kejadian yang dapat merugikan pedagang kecil akibat kesalahpahaman informasi.
Kasus ini menjadi sorotan luas karena menyangkut kepercayaan publik terhadap jajanan tradisional serta pentingnya komunikasi yang akurat dari aparat penegak hukum. Berbagai media menilai peristiwa ini sebagai pelajaran bersama agar klarifikasi dilakukan secara cepat dan proporsional.
![]()
