ASBI Newes, Bandung Barat, Jawa Barat — Bencana banjir bandang disertai longsor terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, sekitar pukul 02.30-03.00 WIB, setelah beberapa hari curah hujan ekstrem mengguyur wilayah itu. Fenomena ini memicu tanah bergerak dan aliran air deras masuk ke pemukiman warga, menimbun rumah dan jalanan dengan lumpur, batu, serta material lain yang terbawa arus.
Menurut tim relawan dan laporan saksi mata, sebelum longsor terjadi warga mendengar suara gemuruh keras pada dini hari sebelum tanah bergerak menuruni lereng Bukit Burangrang. Bencana ini terjadi saat hampir semua warga tertidur, sehingga banyak yang terjebak dalam rumah saat aliran tanah dan banjir menerjang.
Curah hujan yang tinggi selama beberapa hari sebelumnya membuat tanah menjadi jenuh air, memicu longsor di lereng dan banjir bandang di wilayah bantaran sungai serta dataran rendah di Cisarua. Kondisi ini diperburuk oleh limpahan air dari hujan deras dan aliran sungai yang meluap.
Dampak Korban dan Kerusakan
Hingga update terbaru, angka korban terus bertambah seiring pencarian oleh tim SAR gabungan:
- Korban meninggal: Dilaporkan meningkat hingga 17 jiwa telah dikonfirmasi meninggal dunia dalam operasi pencarian.
- Korban hilang: Puluhan hingga lebih dari 70-80 orang tetap hilang, masih dalam pencarian intensif tim SAR.
- Rumah tertimbun: Sekitar 30-34 rumah dilaporkan tertimbun material longsor, menyebabkan struktur bangunan rusak parah dan tidak dapat lagi dihuni.
- Evakuasi: Sekitar 230 warga telah dievakuasi ke tempat aman dan pengungsian pemerintah setempat.
Identifikasi jenazah juga berlangsung di pos identifikasi korban bencana, di mana puluhan jenazah telah terdata dan sedang diverifikasi menurut laporan terbaru media lokal.
Kerusakan tidak hanya pada hunian warga, tetapi juga lahan pertanian, akses jalan, dan sarana umum di sekitar lokasi bencana. Material longsor yang meluncur bersama banjir menyebabkan jalur transportasi terganggu dan sebagian tertutup lumpur.
Operasi pencarian dan pertolongan dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari:
- BASARNAS (Badan SAR Nasional)
- BPBD Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bandung Barat
- TNI/Polri
- Tim relawan lokal, anjing pelacak, drone, dan alat berat
Tim SAR bekerja sepanjang hari menyisir lokasi untuk menemukan korban yang terjebak di bawah material longsor. Cuaca buruk dan kondisi tanah yang labil menjadi tantangan utama dalam pencarian sehingga tidak jarang dilakukan penggalian manual di beberapa titik untuk mengurangi risiko keselamatan petugas.
Selain itu, pemerintah daerah sudah mendirikan posko pengungsian dan kesehatan, memberikan bantuan makanan, air bersih, layanan medis darurat, serta psikososial bagi para korban yang selamat.
Pemerintah daerah dan pusat bergerak cepat menangani dampak bencana ini:
- Bupati Bandung Barat menetapkan status darurat bencana secara resmi untuk mempercepat koordinasi penanganan dan alokasi bantuan.
- Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi bencana pada Minggu, 25 Januari 2026 untuk memastikan bantuan darurat berjalan tepat guna dan menyampaikan arahan percepatan respons di lapangan.
- Pemerintah juga menekankan pentingnya antisipasi bencana lanjutan, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, serta layanan kesehatan dan pengawasan lingkungan pascabencana.
Gubernur Jawa Barat juga menegaskan akan melakukan relokasi sementara kepada warga yang tinggal di zona berisiko tinggi serta menyediakan dukungan finansial dan logistik untuk keluarga korban serta warga terdampak.
Para ahli cuaca dan bencana menilai bahwa bencana ini merupakan kombinasi dari curah hujan tinggi yang berlangsung berkepanjangan serta kondisi lereng yang mengalami akses perubahan penggunaan lahan, termasuk deforestasi dan pembukaan lahan di zona rawan longsor. Faktor geografis kawasan yang berbukit di Bandung Barat juga memperbesar risiko terjadinya longsor saat hujan ekstrem.
BMKG mencatat bahwa periode musim hujan di Jawa Barat biasanya berlangsung hingga April 2026, sehingga potensi hujan lebat dan kejadian serupa masih tinggi jika langkah mitigasi tidak diterapkan secara serius.
Para korban yang selamat kini berada di balai desa, posko pengungsian, dan tempat penampungan sementara. Pemerintah membantu pemenuhan kebutuhan harian mereka dan telah menyediakan bantuan tunai sementara untuk biaya sewa rumah serta bantuan harian.
Pemerintah provinsi juga berencana melakukan:
- Relokasi jangka menengah dan panjang warga di zona rawan
- Reboisasi dan penanaman kembali vegetasi di lereng bukit
- Perencanaan ulang penggunaan lahan di kawasan rawan bencana
Langkah-langkah ini dianggap penting untuk mencegah bencana serupa terulang di masa depan dan melindungi warga dari risiko banjir bandang serta longsor yang kerap terjadi di musim hujan.
Bencana banjir bandang dan longsor di Bandung Barat 24 Jan 2026 telah menyebabkan puluhan korban meninggal dan puluhan masih hilang, serta kerusakan signifikan pada hunian warga akibat hujan ekstrem dan faktor geologis. Operasi SAR masih berlangsung, pemerintah mempercepat respons darurat, dan warga terdampak mendapat dukungan logistik dan relokasi jangka pendek. Upaya mitigasi risiko jangka panjang juga menjadi fokus untuk mengurangi dampak bencana di masa datang.
![]()

