Kabupaten Bandung — Keberadaan Candi Bojong Menje menjadi salah satu bukti penting bahwa wilayah Tatar Sunda telah mengenal peradaban dan sistem kepercayaan Hindu sejak masa yang sangat awal. Situs bersejarah ini berada di Kampung Bojong Menje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dan hingga kini masih menyimpan banyak misteri sejarah yang belum sepenuhnya terungkap.
Candi Bojong Menje pertama kali menarik perhatian publik pada awal tahun 2000-an, ketika warga setempat menemukan susunan batu andesit saat melakukan penggalian tanah di area persawahan. Penemuan tersebut kemudian dilaporkan kepada pihak berwenang dan ditindaklanjuti oleh Balai Arkeologi Bandung (kini BRIN) melalui serangkaian penelitian dan ekskavasi arkeologis.
Berdasarkan hasil kajian sementara, Candi Bojong Menje diperkirakan berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, atau sezaman dengan periode awal berkembangnya kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara. Temuan ini menjadikan Bojong Menje sebagai salah satu situs candi Hindu tertua di Jawa Barat, bahkan lebih tua dibandingkan Candi Cangkuang di Garut yang selama ini dikenal sebagai candi Hindu tertua di Tatar Sunda.
Struktur dan Temuan Arkeologis
Berbeda dengan candi-candi besar di Jawa Tengah atau Jawa Timur, struktur Candi Bojong Menje relatif sederhana dan ditemukan dalam kondisi tidak utuh. Ekskavasi menunjukkan adanya fondasi bangunan candi berbentuk bujur sangkar yang tersusun dari batu andesit. Beberapa batu menunjukkan pahatan sederhana, namun belum ditemukan relief atau arca yang utuh.
Para arkeolog menduga candi ini merupakan bangunan pemujaan Hindu awal, kemungkinan besar terkait dengan aliran Siwaisme, yang pada masa itu mulai menyebar ke wilayah barat Pulau Jawa. Letak candi yang berada di dataran rendah dan dekat dengan aliran sungai juga menguatkan dugaan bahwa kawasan ini dahulu merupakan pusat aktivitas masyarakat kuno.
Kaitannya dengan Sejarah Kerajaan Sunda Kuno
Secara historis, Candi Bojong Menje diyakini berkaitan dengan fase awal Kerajaan Sunda Kuno atau entitas politik lokal sebelum munculnya Kerajaan Pajajaran. Hal ini memperkuat pandangan bahwa wilayah Bandung Raya sudah menjadi bagian dari jaringan peradaban Nusantara sejak lebih dari 1.300 tahun lalu.
Meski belum ditemukan prasasti langsung di lokasi, keberadaan candi ini menjadi petunjuk penting bahwa pengaruh budaya dan agama India telah masuk dan berkembang di wilayah Jawa Barat jauh sebelum abad ke-10 Masehi.
Upaya Pelestarian dan Tantangan di Lapangan
Saat ini, Candi Bojong Menje telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya, namun pengelolaannya masih menghadapi berbagai tantangan. Lokasinya yang berada di tengah permukiman dan lahan pertanian membuat situs ini rentan terhadap kerusakan, baik akibat aktivitas manusia maupun faktor alam.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait telah melakukan sejumlah langkah pengamanan, seperti pemasangan pagar pembatas, papan informasi, serta pendataan lanjutan terhadap temuan arkeologis. Namun, keterbatasan anggaran dan minimnya pemahaman masyarakat tentang nilai sejarah situs ini masih menjadi kendala utama.
Nilai Edukasi dan Harapan ke Depan
Para sejarawan dan budayawan menilai Candi Bojong Menje memiliki potensi besar sebagai sumber edukasi sejarah dan budaya Sunda. Situs ini tidak hanya penting bagi dunia akademik, tetapi juga dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda tentang akar peradaban leluhur di Jawa Barat.
Diharapkan ke depan, penelitian lanjutan dapat mengungkap lebih banyak informasi mengenai fungsi candi, kehidupan sosial masyarakat pendukungnya, serta peran kawasan Bandung dalam peta sejarah Nusantara. Dengan pengelolaan yang tepat, Candi Bojong Menje berpotensi dikembangkan sebagai situs edukasi sejarah tanpa menghilangkan nilai keaslian dan kesakralannya.
Sebagai warisan budaya yang tak ternilai, Candi Bojong Menje menjadi pengingat bahwa Kabupaten Bandung bukan hanya kaya akan alam, tetapi juga menyimpan jejak panjang peradaban yang patut dijaga dan dilestarikan bersama.
![]()


