JAKARTA — Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian memberikan klarifikasi dan permintaan maaf publik setelah pernyataannya mengenai bantuan kemanusiaan dari Malaysia kepada korban bencana di Provinsi Aceh menjadi sorotan dan menimbulkan kritik, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Klarifikasi disampaikan Tito dalam jumpa pers dan pernyataan resmi di Istana Negara Jakarta pada Jumat (19/12/2025), beberapa hari setelah video potongan ucapannya yang diunggah dalam sebuah podcast menjadi viral di media sosial. Media asing sempat melaporkan bahwa sebagian publik di Malaysia merasa pernyataan Tito “meremehkan” bantuan yang mereka kirimkan.
Tito menegaskan bahwa ia sama sekali tidak bermaksud mengecilkan bantuan atau dukungan dari pemerintah dan masyarakat Malaysia. Ia menjelaskan bahwa pernyataannya sebelumnya bisa saja disalahpahami karena konteks pembahasan yang berkaitan dengan mekanisme penerimaan bantuan asing dan kapasitas Indonesia dalam menangani bencana secara mandiri.
“Saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengecilkan bantuan dan dukungan dari saudara-saudara kita di Malaysia. Kalau ada yang salah paham, saya minta maaf,” ujar Tito dalam klarifikasinya.
Tito juga menyampaikan penghormatan tinggi terhadap solidaritas Malaysia, termasuk dukungan dari diaspora Aceh di negara tersebut. Ia menyatakan bahwa hubungan antara Indonesia dan Malaysia — baik secara diplomatik maupun sosial — telah terjalin panjang sejak masa lalu, termasuk kerja sama pascaperistiwa bom Bali tahun 2002 saat Tito masih aktif di Kepolisian.
Dalam keterangannya, mendagri menjelaskan bahwa nilai bantuan medis dari Malaysia yang sempat disebutkan sekitar kurang dari Rp1 miliar bukan dimaksudkan sebagai ukuran komparatif terhadap upaya Indonesia, melainkan sekedar penyampaian fakta terkait jumlah bantuan tertentu. Ia menekankan bahwa fokus utamanya adalah agar upaya besar pemerintah Indonesia dalam penanganan bencana juga diakui, meskipun tidak selalu terekspose media.
Pernyataan Tito tersebut sempat memicu reaksi dari tokoh masyarakat Malaysia serta komentar tajam di media sosial di kedua negara, karena dianggap kurang menghargai niat baik pemberi bantuan. Namun, klarifikasi Tito yang disampaikan secara terbuka di Jakarta diharapkan dapat meredakan ketegangan serta menjaga hubungan bilateral yang selama ini kuat.
Selain itu, beberapa analis menilai insiden ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam komunikasi publik pejabat negara saat berbicara mengenai bantuan internasional, terutama dalam konteks bencana dan solidaritas antarnegara.
![]()
