CIANJUR, JAWA BARAT — Situs Megalitikum Gunung Padang kembali menjadi perbincangan publik. Bukan hanya karena keindahan alam dan susunan batu andesitnya yang unik, tetapi juga karena perdebatan panjang tentang usia, fungsi, dan makna peradaban yang tersembunyi di balik bukit sunyi di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Bagi sebagian pengunjung, Gunung Padang adalah tempat hening yang sarat energi. Tangga demi tangga yang disusun dari batuan besar seolah membawa siapa pun yang menaikinya pada perjalanan waktu, menembus masa ribuan tahun lalu. Di puncaknya, hamparan teras batu tersusun rapi, menyisakan pertanyaan besar: siapa yang membangunnya, dan untuk apa?
Namun bagi kalangan akademisi dan peneliti, Gunung Padang adalah medan diskursus ilmiah yang belum menemukan titik akhir. Sejumlah penelitian menyebut situs ini sebagai peninggalan megalitik tertua di Asia Tenggara, bahkan ada yang mengklaim usianya mencapai puluhan ribu tahun. Klaim tersebut memicu pro dan kontra, terutama karena dianggap melampaui kerangka arkeologi konvensional.
Di sinilah Gunung Padang berdiri — bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai ruang tarik-menarik antara sains, keyakinan, dan narasi publik.
Pendukung teori peradaban tua meyakini Gunung Padang merupakan bukti bahwa Nusantara pernah menjadi pusat peradaban kuno yang maju, jauh sebelum Mesir dan Mesopotamia. Mereka melihat struktur berlapis di bawah permukaan tanah sebagai piramida purba yang sengaja dikubur oleh zaman.
Sebaliknya, para arkeolog arus utama menilai klaim tersebut harus diuji dengan metode ilmiah yang ketat. Mereka menekankan pentingnya stratigrafi, konteks budaya, dan kehati-hatian agar sejarah tidak dibangun hanya dari asumsi dan sensasi.

“Gunung Padang tidak boleh diperlakukan sebagai panggung pembenaran teori, tetapi sebagai laboratorium pengetahuan,” tulis salah satu pengamat budaya dalam kolom opininya yang enggan di sebutkan namanya.
Di tengah perdebatan ilmiah, masyarakat lokal justru memaknai Gunung Padang secara lebih sederhana namun mendalam. Bagi warga sekitar, situs ini adalah ruang sakral, tempat leluhur menitipkan pesan tentang keseimbangan antara manusia dan alam. Ritual adat, ziarah, dan cerita lisan terus hidup berdampingan dengan penelitian modern.
Ironisnya, di balik ketenaran Gunung Padang, persoalan pelestarian masih menjadi pekerjaan rumah besar. Lonjakan wisatawan, eksploitasi narasi mistis, dan politisasi sejarah berpotensi menggeser esensi situs itu sendiri. Gunung Padang kerap dibicarakan, tetapi belum tentu sepenuhnya dipahami.
Opini publik pun terbelah. Ada yang melihat Gunung Padang sebagai simbol kebangkitan jati diri bangsa, ada pula yang khawatir situs ini dijadikan alat legitimasi kepentingan tertentu. Namun satu hal yang pasti, Gunung Padang telah berhasil melakukan sesuatu yang jarang dimiliki situs sejarah lain: membuat masyarakat berpikir, bertanya, dan berdialog tentang masa lalu.
Mungkin, Gunung Padang tidak menuntut jawaban cepat. Ia berdiri tenang, membiarkan manusia berdebat di sekelilingnya, sambil menyimpan rahasia yang hanya bisa dibuka dengan kesabaran, kejujuran ilmiah, dan rasa hormat terhadap sejarah.
![]()
